
Favorite SitesArchive |
About MeFriendsLabels
|

Rifka Aisyah
Ordinary person with extraordinary dreams
| Jangan Lagi Satria* | 3:12 PM |
|
Filed under:
Cerpen
|
|
Cerpen pertama Rifka Aisyah (Marphoamatonte)
Dalam langkah cepatku, aku melihatmu dengan kemeja itu, kemeja khasmu. Kemeja kotak-kotak merah, hitam, dan cokelat. Aku tahu kau pun melihatku. Namun kau alihkan pandanganmu dan aku pun begitu. Lalu kau salami temanmu, mungkin teman lamamu. Kau sunggingkan senyum indahmu namun aku tidak berani melihatnya. Aku berjalan sambil setengah berlari menuju kantin dekat masjid itu.
Kadang aku berpikir, akankah kita akrab lagi seperti dulu. Kau berubah. Namun aku tidak mengerti mengapa kau berubah. Kau adalah orang asing yang masuk ke dalam kehidupanku, lalu menjadi teman dekatku, dan sekarang menjadi orang asing lagi. Dulu, kerinduanku telah membunuhku. Namun aku sadari, kau mungkin ingin menjadi baik dan aku pun begitu. Aku bakar semua kenangan tentangmu, foto masa kanak-kanakmu yang kau berikan padaku, sms-sms gombalmu, dan buku harianku yang isinya sebagian besar tentangmu. Namun, ingatan tentangmu belum bisa terhapus dari pikiranku. Aku berharap bisa datang sering-sering ke mesjid ini jika kamu di sini. Namun aku menyadari, motif itu bukanlah motif yang lurus.
Aku masuk antrian pembelian makanan. Namun sebenarnya aku tidak bergairah untuk makan. Lidahku seperti tidak lagi mampu merasakan enaknya makanan. Namun, aku masih sayang tubuhku. Oleh karena itu, aku paksakan makan walaupun hanya kue-kue dan yoghurt stroberi, favoritku.
Satria, sesungguhnya aku masih mengingat-ingat kamu. Perkenalan kita yang bodoh dan menggelikan, percakapan-percakapan kita, informasi-informasi yang kau cari tentangku, dan yang kucari tentangmu. Ah, aku masih mengingatnya. Dan juga saat kita pergi berdua. Saat itu kau memakai kemeja kuning-cokelat dan aku memakai pakaian cokelat juga. Aku pikir kita berdua cocok. Kau kelihatan gugup dan aku pun begitu. Saat itu pertama kalinya aku pergi berdua dengan laki-laki, denganmu. Berdua saja. Satria, itu adalah dosa. Dan ingatan-ingatan ini juga adalah dosa.
Kupilih tempat duduk yang sepi. Karena ku sedang ingin sendiri tanpa seorang pun yang mengajak bercengkerama. Namun, tidak berapa saat kemudian, sesosok laki-laki duduk di sampingku dan dua orang lainnya di seberang tempat duduk lainnya. Jika tempat duduk ini adalah tempat duduk milikku, aku ingin sekali mengusir mereka. Tapi, aku urungkan niatku, sebab kantin ini adalah tempat umum.
Awalnya aku tak menyadari siapa yang ada di samping kiriku. Aku hanya membaca, menekuri huruf-huruf yang ada di bukuku sambil makan kue-kue. Tempat ini adalah tempat yang cukup menjaga hijab. Walaupun tidak ada pemisah antara laki-laki dan perempuan, biasanya orang-orang yang makan di tempat ini agak sadar diri. Laki-laki biasanya akan duduk di tempat yang dominan laki-lakinya, begitu juga dengan perempuan. Namun, laki-laki di sebelahku ini berbeda dengan pengunjung pada umumnya.
Mestilah orang itu bukan orang yang paham tentang Islam.
Hal yang lebih parah terjadi. Kaki kanan orang ini bergesekkan dengan kaki kiriku. Waduh, aku bersentuhan! Iya walaupun memakai rok (ada penghalang), tetap saja aku merasakam hal yang aneh tiba-tiba muncul. Gugup dan marah. Apalagi dengan laki-laki ini. Apa yang dia pikirkan. Kuharap tak aneh-aneh. Aku tidak mengerti apakah sentuhan ini sesuatu yang disengaja ataukah bukan. Sentuhan ini terjadi sesaat setelah ia duduk di sampingku.
Aku melanjutkan makanku sambil tak memalingkan wajahku ke arah laki-laki yang duduk di sebelahku. Ehh, beberapa saat dia bicara pada teman-temannya. Kudengar suara itu! Suara yang sangat khas, sangat kukenal...Tapi, mana mungkin! Sepertinya aku salah dengar...suara memang mirip, namun agak kekanak-kanakkan. Aku penasaran. Aku ingin melihat siapa orang yang duduk di sampingku. Gak berani ah!! Tapi aku masih penasaran. Aku curi-curi pandang. Dan kulihat pakaian itu. Pakaian yang kulihat di mesjid itu. Pakaian laki-laki itu.. dia Satria.
Ah mana mungkin!! Karena terus menerus menebak tentang hal ini, konsentrasi belajarku buyar. Sudahlah, aku perlu mengetahui siapa yang duduk di sampingku. Ku dengarkan baik-baik pembicaraannya dengan kedua kawannya. Jurnal, tugas pendahuluan,bla-bla...Oh, mahasiswa tingkat satu pikirku. Lalu kudengarkan lebih saksama dan terlontarlah satu pertanyaan yang membuat hipotesisku tak berlaku.
"Kalau Akang ikut lomba apa aja?"
"Ga ikut"
"Kalau penerapan elektro gimana?"
"IC dan bla-bla...".
Pria itu bukan mahasiswa tingkat satu. Di atasnya. Tapi siapa? Yang pasti anak elektro. Ah siapa?
Diakah? Tak akan mungkin! Mana berani dia duduk di samping seorang perempuan. Perempuan manapun, mau dia seorang yang menjaga hijabnya ataukah wanita sanguin-hedon. Tak akan mungkin.
Aku menghabiskan segelas yoghurtku. Ah, inilah kesempatanku untuk mengetahui. Aku bangkit dari tempat dudukku...Ah, kutemukan...pakaian itu, rambut itu, bentuk kepala itu...semuanya adalah ciri-cirinya. Betapa beraninya dia melakukan hal itu. Kantin ini adalah tempat umum, namun dia berani menunjukkannya. Kenapa bisa? Kok bisa terjadi ? Apa yang mendorongnya melakukan itu?
Aku kebingungan...aku bergegas keluar dari tempat itu. Karena kaget dan malu, aku tersedak dan wajahku memerah.
Apa yang dia pikirkan sehingga mendorongnya untuk duduk di sampingku dan kaki kami yang bergesekkan itu…
Aku kemudian berjalan dan berlari…lalu menangis…aku tidak mengerti mengapa aku menangis. Aku hanya merasa aku telah ternodai. Aku merasa murahan. Aku ingin menjadi baik dan melupakan apa yang telah terjadi dulu antara aku dan Satria.
Allah, ampuni aku…
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (TQS. Al Isra : 32)”
*untuk seorang kawan yang istimewa
Aku cuman bisa bilang, “maafkan dirimu
Kini kau dapatkan kebenaran itu
Biarlah masa lalu menjadi cambuk bagimu
Dan masa depan menjadi amalmu
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

© 2008 Rifka Aisyah
Design by Templates4all
Converted to Blogger Template by BloggerTricks.com | Distributed by The World's Hardest Game


3 comments:
sama seperti kisahku dulu, yang membuatku harus menangis di hadapan bidadariku mengakui segala polahku yang begitu menjijikkan.
Ceritanya mirip aku rif, awal aku berjalan dengan wanita adalah ke pameran buku, tepat 1 tahun yang lalu.
Dari pameran buku, aku mulai berani membawanya, memboncengnya di belakang keretaku, kami ke pantai. Tapi, hingga di pantai pun, kulitku tak bersentuh dengan kulitnya.
Aku terlalu malu... Malu sama dirinya, malu sama diriku, dan aku terlalu malu sama Tuhanku.
Lantas Tuhan memberi jalan yang terbaik. Di saat aku begitu mencintainya, tuhan memisahkan kami. Dia berikan ribuan rasa muak pada wanita itu padaku, dan aku pun bertanya, "Mengapa demikian, apa yang membuatmu begitu?"
Seorang pria yang dia anggap dewasa telah membawanya pergi. Campaklah aku dalam kebisuan cinta, dan hati yang terburai. Aku kolaps...
Sekarang aku tersenyum. Tuhan amat begitu mencintaiku.
Aku manusia, ku akui aku pernah tersalah. Namun aku harap itu menjadi pelajaran.
Bahkan pria pun menangis.
jadi terharu...
eh ini sebenarnya kisahku.
Rifka..
Oh ini cerpen toh..saya kira kisah nyata..hehehe
rifka, blognya aku link ya ke http://tiestrisutanto.wordpress.com
Post a Comment
Post a Comment